Seminar Peranan Akuntansi Dalam Perpajakan Untuk Menghadapi MEA

Jumat, 24 Februari 2017. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Harapan Medan menyelenggarakan “Pelatihan Kiat-Kiat Memenangkan Hibah Pengabdian Pada Masyarakat Kemenristekdikti”. Acara ini berlangsung di Aula Kampus Harapan Jalan Imam Bonjol Medan, dan menghadirkan Narasumber Prof. Khasrad, yang merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang. Saat ini Beliau juga bertugas sebagai reviewer pada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat.

Tujuan dari pelatihan ini untuk meningkatkan minat Dosen dalam melakukan Pengabdian Pada Masyarakat sehingga dapat memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pembinaan usaha bagi masyarakat produktif secara ekonomi (usaha mikro), memperkenalkan kepada masyarakat yang belum produktif tentang kegiatan wirausaha, membantu masyarakat yang tidak produktif secara ekonomi (masyarakat umum/biasa) melalui kegiatan peningkatan pengetahuan dan memberikan pelatihan.

Dalam pelatihan ini Prof Khasrad menyatakan ada beberapa tips keberhasilan dalam mengajukan proposal Pengabdian Pada Masyarakat antara lain: paham akan filosofi masing-masing skim, personal yang berbobot (sesuai dengan kompetensi), proposal jangan naratif, target luaran harus terukur, pemilihan objek harus tepat, kelengkapan legalitas sesuai dengan skema, harus konsisten dari awal sampai akhir, lampiran proposal harus mendukung isi proposal dan presentasi yang meyakinkan. Prof Khasrad juga mengatakan bahwa dalam melaksanakan pengabdian masyarakat diperbolehkan berkolaborasi antar lintas ilmu dalam memecahkan masalah bersama.

Ada dua sesi dalam seminar, sesi pertama seminar dimoderatori oleh Arie Pratama selaku dosen dari UNPAD. Sesi ini diisi oleh Prof John Hutagaol dan Darussalam. Prof John menjelaskan MEA membuat semuanya tanpa ada batasan, bahkan semua bergerak didalam pasar tunggal. Prof John mengajak hal ini harus disikapi agar nantinya Indonesia mampu memenangkan persaingan. Salah satu cara adalah melalui pengajaran yang dilakukan dosen untuk lebih mendorong mahasiswa berfikir global. “MEA sudah datang, suka tidak suka harus kita hadapi bersama, sekarang bagaimana kita bisa mempersiapkan diri lebih dini yaitu melalui pembelajaran sehingga dosen dikelas harus mampu merubah mindset mahasiswa untuk berfikir lebih luas berfikir menjadi pemain global bukan lagi menjadi pemain lokal,” tegasnya.

Dilanjutkan oleh penjelasan Darussalam, beliau menganalogikan pajak itu ibarat air. Air akan akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sama halnya dengan kesadaran untuk membayar pajak, subyek pajak pasti akan mencari tempat dimana yang mengenakan pajak paling kecil. Sehingga tugas dosenlah untuk menyampaikan ke mahasiswa agar nantinya ketika mereka menjadi subyek pajak mereka akan lebih peduli terhadap negaranya megingat pajak adalah tulang punggung negara. “Tidak dapat dipungkiri setiap orang pasti ingin bayar pajak murah, namun sekarang tugas dosenlah memberikan edukasi kepada mahasiswa untuk lebih aware terhadap pajak di negara sendiri,” ungkapnya.

Seminar ini memberikan banyak manfaat, Dewi salah satu peserta seminar dari Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Jakarta mengatakan acara ini merupakan tempat untuk mendapatkan banyak informasi baru. Sebagai dosen, Dewi menyadari perkembangan dunia pendidikan harus selalu diperbaharui agar nantiya bisa ditransfer ke mahasiswa untuk memberikan dorongan mereka agar lebih siap menghadapi perubahan.

Perkembangan dunia pendidikan memang harus kita sikapi dengan positif salah satunya dengan memperbaharui informasi melalui seminar seperti ini, agar nantinya saya bisa memberikan lebih banyak gambaran kepada mahasiswa kedepannya,” papar Dewi.

Sumber: Meylia/febugm